Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Pendidikan - SMAN 7 (WIDYA BHAKTI TARUNA) Yogyakarta

Berdasar SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.0473/0/1983 yang menetapkan dibukanya SMA baru, maka terhitung mulai tanggal 1 Juli 1983 SMA Negeri 7 Yogyakarta berdiri.
Pada awal tahun ajaran 1983/1984 pengelolaan dan pembinaan SMA Negeri 7 Yogyakarta diserahkan kepada SMA Negeri 1 Yogyakarta dengan Kepala Sekolah dirangkap oleh Drs. Mulyono (Alm.) dengan menempati gedung SMA Negeri 1 Yogyakarta masuk siang.

[sunting] Sejarah Tenaga Pengajar

Adapun tenaga pengajarnya adalah guru-guru SMA Negeri 1 Yogyakarta dan 10 orang guru yang dinota dinaskan berdasarkan SK Kakanwil DIY No. 807/I.13.4/C.2/1983, yaitu:
  1. Drs. Suprayitno (SMAN 6 Yogyakarta)
  2. Drs. Sismadi (SMAN 6 Yogyakarta)
  3. Dra. H. Mudjijah (SMAN 6 Yogyakarta)
  4. Ratmitun (SMAN 6 Yogyakarta)
  5. Bakri (SMAN 6 Yogyakarta)
  6. Drs. Muslim Syukur (SMAN 6 Yogyakarta)
  7. Petrus Sudiyono (SMAN 6 Yogyakarta)
  8. Sukiman Marsudi (SMAN 6 Yogyakarta)
  9. Tuti Sukastini (SMA 2 Wonosari)
  10. Hadi Sudarsono (Alm.) (SMA 1 Sleman)
Berdasarkan SK.Mendikbud RI no.95329/Kl.2/1984 tanggal 18 Oktober 1984 menetapkan Dra. Sri Soewarni sebagai Kepala SMA Negeri 7 Yogyakarta. Pada tahun ajaran 1985/1986 mulai menempati kampus Fakultas Kedokteran UGM dan RSU Pugeran Yogyakarta.

[sunting] Kepala Sekolah

  1. Drs. Mulyono (Alm.) (1983 - 1984)
  2. Dra. Sri Soewarni (1984 - 1988)
  3. Drs. Mashari Subagijono (1988 - 1991)
  4. R.Ay. Tri Martani (1991 - 1993)
  5. Drs. Sapardi (1993 - 1997)
  6. Drs. Panut S. (1997 - 2001)
  7. Drs. Timbul Mulyono (2001 - 2005)
  8. Drs. Hardja Purnama (2005 - 2008)
  9. Drs. H. Mawardi (2008 - 2010)
  10. Drs. Timbul Mulyono, M.Pd. (Plt. Kepala Sekolah) (September 2010 - Agustus 2011)
  11. Dra. Reni Herawati, M.Pd.B.I. (Agustus 2011 - sekarang)

[sunting] Lambang Sekolah

Lambang SMA Negeri 7 Yogyakarta merupakan karya dari Drs. Suprayitno yang juga bertugas sebagai guru bahasa Indonesia di SMA N 7 Yogyakarta.
  • Bentuk bingkai bersegi lima melambangkan dasar SMA N 7 Yogyakarta adalah Pancasila. Hal ini sesuai dengan dasar negara Republik Indonesia.
  • Tujuh nyala lilin melambangkan urutan SMA yang ada di Kota Yogyakarta pada tahun 1983. Selain itu nyala lilin melambangkan pengorbanan tanpa pamrih.
  • Buku terbuka melambangkan sumber pengetahuan, maksudnya buku tersebut harus dibaca karena ilmu pengetahuan terutama tersimpan di dalam buku dan tersebar luas.
  • Pena merupakan lambang pendidikan; pena digunakan untuk menulis atau membuat karangan, tulisan agar ilmu pengetahuan tersebar luas.

[sunting]

Pendidikan - SMAN 6 (NAMCHE) Yogyakarta

SMA Negeri 6 Yogyakarta adalah sebuah sekolah negeri jenjang SMA di Kota Yogyakarta yang berdiri pada 31 Maret 1950. Almamater ini meniupkan semangat Samigati Trus Manunggal dengan semboyan Muda Wijaya dan berlambangkan bunga Tunjung Putih.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Sejarah

Sekolah ini mula-mula didirikan untuk menutupi kekurangan tenaga pamong praja di negara bagian Yogyakarta pada tahun 1950. Mengingat sejak Jakarta ditetapkan menjadi Ibu Kota RIS pada tahun 1949, maka kegiatan pemerintah pusat berangsur-angsur dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta, bersama-sama dengan pegawai pamong prajanya. Untuk mengatasi kekurangan atau bahkan kekosongan pegawai ini, digelar pertemuan antara tokoh-tokoh UGM dengan para pendidik yang ada, merumuskan upaya apa yang tepat dan apa yang dapat dilaksanakan, untuk mengisi kekosongan formasi pamong praja tersebut. Dari hasil rapat itu, diputuskan untuk mendirikan sebuah sekolah.
Pada awalnya sekolah baru ini dinamai SMA Yuridis Ekonomi. Siswanya diambil dari pegawai-pegawai yang berijazah SMP/SLTP dan ex-TP (Tentara Pelajar). Karena pada saat itu jenis SMA yang ada adalah SMA/A dan SMA/B maka akhirnya SMA Yuridis Ekonomi berubah nama menjadi SMA/C, sesuai dengan SK Pendirian (Instillingen Besluit) yang diterbitkan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pada 1 Juli 1950. Pada saat itu, SMA Negeri C terbagi menjadi 2 sekolah yaitu SMA IC masuk siang dan SMA IIC masuk pagi dalam satu lokasi yang sama.
Beberapa tahun kemudian, ada perubahan nama sesuai urutan jumlah SMA Negeri yang berada di kota Yogyakarta pada waktu itu, maka SMA IC berubah menjadi SMA 5C dan SMA IIC menjadi SMA 6C. Seiring dengan perkembangan waktu itu, SMA 5C memisahkan diri dari SMA 6C kemudian menempati gedung baru di Jl. Nyi Pembayun Kota Gede sedangkan SMA 6C tetap bertahan di Jl. Cornelis Simanjuntak 2 sampai saat ini. Karena kekhasan nama SMA 6 dengan huruf "C", maka hingga saat inipun masyarakat lebih sering menyebut SMA N 6 Yogyakarta dengan sebutan "NAMCHE".
Kepala Sekolah yang pertama adalah alm. R.M. Poespokoesoemo. Namun beliau hanya menjabat kurang lebih setahun saja (31 Maret 1950 hingga 1 Desember 1951). Lalu beliau digantikan oleh alm. R.A. Djoko Tirtono, SH. (1 Desember 1951 - 1 Juni 1968). Kemudian saat ini dipimpin oleh Drs. Rubiyatno. Sampai saat ini, SMA 6 Yogyakarta telah memiliki 14.000 orang alumni yang tersebar di seluruh Nusantara dan Bahkan Dunia.
Pada tahun ajaran 2009/2010, telah ditetapkan sebagai "The Research School of Jogja" yaitu sekolah tingkat SMA yang berbasis riset atau penelitian yang pertama di Yogyakarta dan di Indonesia.

[sunting] Kurikulum

SMA Negeri 6 Yogyakarta menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

[sunting] Fasilitas

Fasilitas-fasilitas di SMA Negeri 6 Yogayakarta semakin bertambah dari waktu ke waktu. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:
  • Setiap Ruang kelas dengan dilengkapi LCD Projector, Kipas Angin, AC dan Lampu
  • Ruang perpustakaan dengan pengembangan e-librarydengan AC
  • Ruang Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah
  • Ruang Guru
  • Masjid
  • Ruang Bimbingan Konseling
  • Ruang Tata Usaha
  • Laboratorium fisika 1 buah
  • Laboratorium kimia 1 buah
  • Laboratorium biologi1 buah
  • Laboratorium bahasa
  • Laboratorium komputer siswa 2 buah
  • Laboratorium IPS (dalam pengembangan)
  • Ruang Audio Visual 2 Buah
  • Ruang AULA dan Panggung
  • Wi-Fi dengan 8 titik hotspot
  • Lapangan bola basket
  • Lapangan bola voli
  • Masjid
  • Tempat parkir sepeda, sepeda motor dan mobil yang representatif
  • Taman
  • Ruang UKS (untuk konsultasi ke dokter sekolah)
  • Ruang Muda Wijaya Red Cross PMR
  • Ruang Muda Wijaya Hiking and Mountaineering Club Pecinta Alam
  • Ruang Teater Muda Wijaya
  • Ruang Taekwondo
  • Ruang Research Centre
  • Ruang Work Show hasil karya siswa
  • Ruang Pengolahan Limbah Cair
  • Ruang Perpustakaan Toyota Eco Youth
  • Kantin
  • Koperasi

Pendidikan - SMAN 5 (PUSPANEGARA) Yogyakarta

SMA Negeri 5 Yogyakarta adalah sebuah Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta yang berdiri pada 17 September 1949 dan terletak di Jalan Nyi. Pembayun 39 Kotagede, Yogyakarta.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Sejarah

Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Yogyakarta berdiri pada lahan seluas 10.028 Meter dengan luas bangunan 3.762 Meter. Sekolah ini telah mendapat akreditasi A dengan nilai hasil akreditasi 96,86 pada tahun 2009. SMA Negeri 5 merupakan sekolah negeri unggulan di kota Yogyakarta.
Dengan prakarsa para tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat di Yogyakarta yang antara lain Bapak R.DS. Hadiwidjono, Bapak Judjanal, prof Ir. Supardi, prof. Suhardi, SH, pada tanggal 17 September 1949 SMA 5 Yogyakarta secara resmi dapat didirikan dengan nama Sekolah Menengah Atas Bagian Yuridis ekonomis (SMA / AC) dan menempati 9 gedung SMA Putri Stella Duce Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktober 1949, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 210 B, SMA/C Negeri. Sebagai Kepala Sekolah adalah Bapak R.DS. hadiwidjono. Tanggal 31 Maret 1950 pimpinan sekolah diserahterimakan kepada Bapak Suwito Puspo Kusumo, yang selajutnya diserahterimakan kepada Bapak RA. Djoko Tirtono, SH. Di bawah pimpinan Bapak RA Djoko Tirtono, SH, SMA Bagian C berkembang sangat pesat. Tanggal 21 Juli 1952 melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3094/B, SMA/C dipecah menjadi 2 sekolah, masing-masing.
SMA bagian C Negeri 1 di bawah pimpinan Bapak Parmanto, SH. Yang meematigedung di jalan Pogung No. 2 Kotabaru Yogyakarta, masuk pada siang hari (sekarang menjadi SMA N 5 Yogyakarta). SMA bagian C Negeri II dipimpin Bapak RA. Djoko Tirtono, SH. Yang menempati gedung yang sama tetapi masuk pada pagi hari (sekarang menjadi SMA N 6 Yogyakarta). Untuk mengantisipasi kemajuan jaman dan menyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi, maka pada tanggal 1 Agustus 1959 SMA Negeri V Bagian C dijadikan SMA Negeri V Bagian A-C, pada tahun tersebut berhasil dibakukan :
Peraturan dan Tata tertib Sekolah Lagu Mars Puspanegara Lambang Sekolah "Puspanegara" yang memiliki tugas suci' Trus Hakarya Ruming Praja' mengandung makna "agar nantinya para warga SMA N 5 Yogyakarta terus bekarya demi keharuman Negara dan Bangsa". Tanggal 1 Januari 1964 jabatan Kepala Sekolah diserahterimakan kepada bapak Drs. Hadianto. Jumlah kelas dikembangkan dari 12 menjadi 14 kelas dengan mengelola jurusan Ilmu Pasti, Ilmu Alam, Sosial, dan Budaya. Tanggal 1 Agustus 1965 Kepala Sekolah diserahterimakan lagi kepada bapak R. Muh. Solihin, yang kemudian beliau membuka kelas jauh di Kalasan sebagai filial dengan pimpinan bapak Suwardhi, BA. Pada tahun 1974 SMA N 5 Yogyakarta mendapat limpahan tugas untuk mengelola SMPP 10 Yogyakarta, yang sekarang menjadi SMA Negeri 8 Yogyakarta. Pada bulan Januari 1974 SMA N 5 Yogyakarta bersama-sama SMPP 10 Yogyakarta pindah dari Kotabaru ke Jalan Kenari Muja Muju Yogyakarta. Pada saat itu dirasakan ada dualisme pengelolaan administrasi dalam satu lingkungan pendidikan sehingga berakibat nyaris punahnya nama SMA N 5 Yogyakarta. Dengan diserahterimakannya tampuk kepemimpinan SMA N 5 kepada Ibu S Handrioetomo pada tanggal 14 April 1975, Alhamdullilah SMA N 5 Yogyakarta dapat menggelit untuk bangkit berdiri sendiri. Upaya besar telah dilakukan oleh Ibu S. Handrioetomo yaitu agar SMA N 5 Yogyakarta dapat memiliki gedung sendiri. Rupanya keinginan, do'a dan perjuangan seorang Ibu yang gigih ini dikabulkan oleh Allah SWT yaitu dengan dimilikinya gedung baru SMA N 5 Yogyakarta pada tahun 1978 di Kotagede ini yang dulunya berwujud rawa; tempat buangan limbah. Saat ini peranan pengurus dan anggota BP3 SMA N 5 Yogyakarta telah tampak nyata. Perlahan tetapi pasti ruang demi ruang kelas terus dibangun, sambil memasang tembok keliling dan mengurug lahan dengan luas hampir 1 hektar dan kedalaman antara 50 sd 150 cm. Pada saat itu telah dirilis pula :
Sistem kerja; yang dilandaskan terjalinnya rasa kekeluargaan antar guru dan karyawan. Terbitnya janji siswa yaitu Panca Prasetya Bhineka Dharma Siswa Puspanegara. Pada saat itu jumlah lokal terdiri dari 9 kelas dengan satu aula pada bagian sayap timur. Tanggal 1 April 1979 dilaksanakan serah terima jabatan Kepala Sekolah kepada Bapak Drs. A.Sulistijo karena Ibu S. Handioetomo menjalani masa purna tugasnya. Janji Sisiwa Panca Prasetya Bhineka Dharma Siswa Puspanegara dijadikan acuan dalam memantapkan keberadaan sekolah sebagai wiyata mandala. Tanggal 24 Agustus 1981 jabatan Kepala Sekolah diserahterimakan kepada bapak Suwardhi. Beliau sebagai pimpinan sekolah telah berusaha melengkapi, menata, memantapkan keberdaan SMA N 5 Yogyakarta. Menjelang lustrum SMA N 5 Yogyakarta ke 7 bulan september 1984 melalui SK Panitia Lustrum memberi intruksi kepad tim buku kenangan untuk melacak kembali riwayat SMA N 5 Yoygakarta guna meluruskan sejarah. Dalam pelaksanaan tim mengadakan safari silaturahmi pada beberapa tokoh pendiri, para mantan kepala sekolah serta aktivifis SMA N 5 Yogyakarta mereka itu antara lain:
  • Bapak Drs. RA Djokoatirtono, SH
Alamat Jalan HOS Cokroaminoto, Sebagai mantan Kepala Sekolah dan juga pendiri SMA N 5.
  • Bapak HY Sumarto
Alamat Jalan Gejayan, sebagai pelaku sejarah.
  • Bapak R. Muh Solichin
Alamat Lempuyangan, selaku mantan kepala sekolah.
  • Bapak Prof. Drs. Haditono
Alamat Terban Yogyakarta, selaku mantan kepala sekolah dan pengurus BP3.
  • Bapak Drs. Sukabdi
Alamat Taman Siswa, Pencipta Lambang Puspanegara.
  • Ibu Sumartini Idrus
Pencipta Mars Puspanegara.

Pada tanggal 1 Oktober 1985, terjadi serah terima jabatan kepala sekolah kepada Bapak Drs. Soehardjo. Di bawah kepemimpinan beliau, sekolah melaksanakan kerja keras dalam bidang administrasi persekolahan, kesehatan dan kerindangan lingkungan sekolah, juga memantapkan sekolah sebagai Wawasan Wiyata Mandala melalui kebersamaan dan kekeluargaan. Tanggal 17 Februari 1992 dilakukan serah terima jabatan kepala sekolah kepada Ibu Dra. Sri Soewarni. Beliau berusaha meningkatkan keberadaan sekolah sebagai wujud Wawasan Wiyata Mandala melalui kebersamaan dan kekeluargaan. Pada tanggal 2 September 1992 terjadi serah terima jabatan kepala sekolah kepada Bapak R.M. Brotohardono. Beliau merintis berdirinya Yayasan Puspanegara sebagai wadah alumni SMA N 5 Yogyakarta kondisi sekolah terus ditingkatkan melalui reorganisasi pengurus BP3 SMA 5 Yogyakarta dari bapak Prof. Haditono kepada bapak Drs. Pratikto Prawirodiwarno. Pada tanggal 14 Agustus 1995 jabatan kepala sekolah diserahterimakan kepada bapak Drs. Sapardi selaku pejabat yang melaksanakan tugas, karena bapa R.M Brotohardono menjalani masa purna tugas. Pada tanggal 14 Agustus 1995, terjadi serahterima jabatan kepada bapak Drs. H. Ngabdurrachim berusaha menlanjutkan program-program dari pejabat lama yang belum terselesaikan. melalui kerjasama yang harmonis dengan pengurus BP3 mengupayakan program baru untuk jangka pendek dan jangka 5 tahun, antara lain :
  1. Pengukuhan Yayasan Puspanegara sebagai wadah kegiatan darma bakti keimanan SMA N 5 Yogyakarta
  2. Peningkatan keimanan dan ketagwaan di lingkungan sekolah
  3. Peningkatan dan penertiban administrasi pendidikan/sekolah
  4. Peningkatan prestasi belajar melalui program intensifikasi belajar di sekolah
  5. Pembangunan kantor dan ruang guru 2 lantai sebagai wajah SMA 5 Yogyakarta
  6. Pembangunan sarana tempat beribadah
  7. Mengupayakan agar sekolah berprestasi sebagai sekolah tipe A

Mulai tanggal 1 Juli 1999 SMA N 5 Yogyakarta diserahterimakan kapada bapak Drs. Panut S, karena bapak Drs. H. Ngabdurrachim menjalani masa purna tugas. Bapak Drs. Panut S. Menggantikan posisi beliau untuk beberapa bulan. Pada bulan Desember 1999 datanglah kepala sekolah yang baru yaitu bapak Drs. H. Ilham. Pada periode Bapak Drs. H. Ilham program utama yang paling ditekankan adalah peningkatan ketaqwaan sehingga pada saat ini salah satu wujud adalah diresmikannya masjid SMA 5 Yogyakarta dengan nama Masjid DARUSSALAM PUSPANEGARA. Beliau menjabat hingga purna tugas, mengingat perlu adanya pejabat kepala sekolah di SMA N 5 Yogyakarta, maka bulan Desember 2001 Bapak Drs. Timbul Mulyono, Kepala SMA N 7, ditunjuk Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta untuk menjabat sementara sebagai kepala sekolah. Pada tanggal 25 Maret 2002 kepala sekolah dijabat oleh Bapak Drs. H. Abu Suwrdi. Pada periode ini ini beliau menekankan pembangunan etos kerja pada semua guru dan karyawan dan membangun kedisiplinan pada para siswa. Pada periode ini pula bapak Drs. H. Abu Suwardi menyempurnakan Visi dan Misi sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar program kerja dan kegiatan sekolah dapat lebih terarah dalam menggapai target-target kualitas pendidikan yang diharapkan. Pada tanggal 7 Juli 2005 Kepala Sekolah diserahterimakan kepada Bapak Drs. Zamroni, M.Pdi. Dengan memohon pertolongan dari Tuhan YME semoga SMA Negeri 5 Yogyakarta diperkenankan untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang senantiasa memiliki akhlak yang mulia" Trus Hakarya Ruming Praja".
Karena kekhasan nama SMA 5 dengan huruf "C", maka hingga saat inipun masyarakat lebih sering menyebut SMA N 5 Yogyakarta dengan sebutan "MACHE".

[sunting] Kurikulum

SMA Negeri 5 Yogyakarta menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

[sunting] Fasilitas

Berbagai fasilitas di SMA Negeri 5 Yogayakarta semakin bertambah dari waktu ke waktu. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:
  • Setiap Ruang kelas yang dilengkapi LCD Projector, Kipas Angin, Lampu, Dispenser, dan Lemari
  • Ruang perpustakaan 2 lantai
  • Ruang Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah
  • Ruang Guru
  • Masjid
  • Ruang Bimbingan Konseling
  • Ruang Tata Usaha
  • Laboratorium fisika 1 buah
  • Laboratorium kimia 1 buah
  • Laboratorium biologi 1 buah
  • Laboratorium bahasa
  • Laboratorium komputer siswa 2 buah
  • Ruang Audio Visual
  • Ruang Multimedia
  • Ruang AULA (atas dan bawah)
  • Wi-Fi dengan 8 titik hotspot
  • Lapangan bola basket
  • Lapangan bola voli
  • Lapangan badminton
  • Tempat parkir sepeda, sepeda motor dan mobil
  • Taman
  • Ruang UKS (untuk konsultasi ke dokter sekolah)
  • Ruang OSIS
  • Ruang Keterampilan
  • Ruang Teater
  • Ruang Tata Boga
  • Kantin
  • Koperasi

[sunting]

Pendidikan - SMAN 4 Yogyakarta

SMA Negeri 4 Yogyakarta adalah SMA Negeri yang terletak di Jalan Magelang, Kelurahan Karangwaru Lor, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini, SMA Negeri 4 Yogyakarta berstatus sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Riwayat Singkat

SMA Negeri 4 Yogyakarta awal berdirinya bernama SMA Perdjoangan. Hal ini sesusai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 16 Januari 1950, No. 551/B. Pada mulanya, sekolah ini didirikan terutama untuk para pelajar yang telah menunaikan kewajibannya bertempur melawan penjajah dan berbakti kepada negara sebagai Tentara Pelajar anggota Brigade 17.
Pada tahun 1952 dengan SK Menteri Pengajaran dan Kebudayaan No. 3418/B tanggal 8 Agustus 1952, SMA Perdjoangan Yogyakarta berubah nama menjadi SMA bagian B nomor II atau terkenal dengan SMA B Negeri. Pada perkembangan selanjutnya terjadi perubahan nama menjadi SMA (4 B). Baru pada tahun 1997 SMA Negeri 4 Yogayakarta berubah nama menjadi SMU Negeri 4 Yogayakarta.
Tanggal berdirinya SMA Perdjoangan tanggal 16 Januari 1950 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun SMA Negeri 4 Yogyakarta

[sunting] Kurikulum

SMA Negeri 4 Yogyakarta menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

[sunting] DBL

[sunting] Fasilitas

Fasilitas-fasilitas di SMA Negeri 4 Yogayakarta semakin bertambah dari waktu ke waktu. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:

[sunting]

Pendidikan - SMAN 3 (PADMANABA) Yogyakarta

SMA Negeri 3 Yogyakarta sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan, sekolah ini telah ada sejak tahun 1918, karena sebuah dokumen menunjukkan bahwa pada tanggal 5 Juli 1938, sekolah ini merayakan ulang tahunnya yang ke-20. [1], [2] Sampai dengan pecahnya Perang Dunia II (Desember 1941), sekolah ini dikenal dengan nama AMS (Algemeene Middelbare School) afdeling B. Saat itu, sekolah ini hanya diisi oleh mereka dari golongan elite pribumi. [3].
AMS afd. B berganti nama menjadi SMT (Sekolah Menengah Tinggi) bagian A dan bagian B pada masa pendudukan Jepang, tahun 1942. Hingga akhirnya, tanggal 19 September 1942, didukung oleh Kepala Sekolah saat itu (Alm. RJ. Katamsi) berdiri organisasi pelajar sekolah ini yang diberi nama PADMANABA. Padma sendiri dalam Bahasa Sansekerta berarti teratai merah atau dalam Bahasa Latin adalah Nelumbium speciosum. Pada masa itu, sekolah ini juga biasa dikenal dengan nama SMT Kotabaru. Hingga sekarang, tanggal 19 September selalu diperingati sebagai Hari Lahir Padmanaba dengan serangkaian acara yang diselenggarakan oleh para peserta didik aktif, alumni, guru dan karyawan, dan segenap keluarga besar Padmanaba yang dikenal sebagai Pekan Peringatan Hari Padmanaba (PPHP), yang pada tahun 2010 ini adalah PPHP ke-68.
Tahun 1948, sekolah ini terbagi menjadi dua, yaitu SMA A di Jalan Pakem 2 dan SMA B di Jalan Taman Krida 7. Pada tanggal 21 Desember 1948, sekolah ini diduduki Belanda. Tanggal 6 Juni 1949, SMA B berhasil dibuka kembali dengan pendidikan yang lebih berkualitas. Tahun 1956, SMA ini berubah nama menjadi SMA IIIB, dan berubah lagi menjadi SMA Negeri 3 pada tahun 1964, di bawah pimpinan kepala Sekolah Ibu Mujono Probopranowo.
Dengan diberlakukannya Kurikulum 1994, sekolah ini bernama SMU (Sekolah Menengah Umum) Negeri 3 Yogyakarta, tetapi sejak diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mulai tahun 2004, diubah lagi menjadi SMA Negeri 3 Yogyakarta. Walaupun demikian, masyarakat luas sampai sekarang masih mengenalnya sebagai "SMA Padmanaba" atau "SMA 3 Bhe".

[sunting] Kepala Sekolah

Sejak tahun 1942, sekolah ini telah mengalami 21 kali pergantian kepala sekolah. Nama-nama kepala sekolah sejak tahun 1942 adalah sebagai berikut. [4].
  1. 19421945 : RJ. Katamsi,
  2. 19451946 : Prof. Dr. Soegarda Poerbokawotjo,
  3. 19461947 : Prof. Dr. Priyono,
  4. 19471950 : Ir. Marsito,
  5. 19501951 : Drg. Nasir Alwi,
  6. 19511956 : Muh. Sjahlan,
  7. 19561963 : R. Soecipto,
  8. 19631971 : Moedjono Probopranowo, S.H.,
  9. 19711976 : Utoyo Darmabrata,
  10. 19761981 : Haji Muh. Solihin,
  11. 19811985 : Oetoro|Drs. Oetoro,
  12. 19851987 : Drs. Wahyuntana,
  13. 19871991 : Ariento Sukotjo,
  14. 19911993 : Drs. Mashari Subagijono,
  15. 19931997 : Drs. Soenarto,
  16. 19972002 : Drs. Nursisto,
  17. 20022004 : Drs. H. Mashadi AR.,
  18. 20042005 : Dra. Hj. Sri Ruspita Murni,
  19. 20052007 : Drs. Bambang Supriyono, M.M.,
  20. 20072009 : Drs. H. Bashori Muhammad, M.M., dan
  21. 2009kini : Dra. Dwi Rini Wulandari, M.M.

[sunting] Nama Padmanaba

Nama "Padmanaba" yang sekarang dikenal sebagai nama lain dari SMA Negeri 3 Yogyakarta serta dipakai sebagai nama organisasi yang anggotanya para alumni dan semua yang pernah bersekolah di SMA Negeri 3 Yogyakarta, telah digunakan sejak tahun 1942. Penggagasnya adalah RJ Katamsi yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Sekolah dan juga guru seni mengambar. Nama Padmanaba bermula ketika beliau menjelaskan tentang sifat-sifat dasar teratai kepada murid-muridnya. Beliau mengatakann bahwa bunga teratai merah atau lotus yang dikenal dengan nama Latin Nelumbium speciosum dan dalam Bahasa Sanskerta disebut Padma, bagi bangsa timur melambangkan sebuah kesakralan dalam berbagai masalah kehidupan. Kuncupnya mengandung arti yaitu kekuatan yang membumbung tinggi ke atas. Bila air pasang,maka teratai ikut naik, bila air surut, maka akan ikut turun. Teratai tumbuh di lingkungan air yang berlumpur, kotor, dengan akar serabut yang saling mengait, namun tetap indah, bersih, dan tidak tercemar sama sekali. Daun pohon teratai pun tumbuh ke arah atas hingga mengambang di atas air dan tidak basah oleh air kotor. Susunan dan kombinasi antara daun dan bunganya pun sangat serasi dengan lingkungan dimana teratai tersebut hidup. Semua itu melambangkan ketidakterikatan kehidupan terhadap keadaan lahiriah atau fisik sekitarnya, dan tersusun atas suatu harmoni kehidupan tanpa tercemar atau terpengaruh oleh alam lingkungannya.
Bunga teratai warna merah melambangkan kesucian yang keindahannya terjangkau oleh siapapun juga mulai dari yang paling rendah atau hina sekalipun, dan sebagai perlambang atas pencapaian tingkat kesadaran tertinggi dalam kehidupan macam apapun.
Dalam agama Buddha dilambangkan bahwa sikap duduk Sang Buddha Gautama waktu bersemedi seperti posisi bunga teratai sehingga disebut bahwa Sang Buddha sedang duduk di atas singgasana Padmasana (tempat tumbuhnya bunga teratai).
Dalam agama Hindu, teratai tumbuh dari pusar Dewa Wisnu ketika terbangun dari semedinya. Dan dari padma yang melambangkan keberanian, kesucian, dan kemajuan tersebut lahirlah Dewa Brahma. Kuncup Padmanaba melambangkan cita-cita, pertumbuhan manusia yang sudi, beriman, dan bertaqwa.
Salah satu murid RJ Katamsi yang bernama Suhud yang memiliki kreativitas lebih daripada lainnya menggambar teratai tersebut dengan sangat baik, sehingga tercetus ide menjadikan gambar teratai Suhud sebagai lambang untuk sekolah. Dengan dibantu oleh temannya yang bernama Soelaiman, Suhud menyempurnakan logo teratai merah itu dengan 2 kelopak bunga dan 8 daun yang tersusun menjadi lapis yang arahnya berlawanan.

[sunting] Lambang Padmanaba

Lambang Padmanaba yang berupa teratai merah pertama kali dibuat oleh murid RJ Katamsi yang bernama Suhud. Dibantu oleh temannya yang bernama Soelaiman, Suhud menyempurnakan logo teratai merah itu dengan dua kelopak bunga dan delapan daun yang tersusun menjadi dua lapis yang arahnya berlawanan.

[sunting] Sertifikasi

  1. Akreditasi dari Badan Akreditasi Sekolah (BAS)dengan nilai A
  2. Cambridge International Centre, dengan Centre Number ID 108.
  3. Standar Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001: 2008

[sunting] Sarana & Prasarana Sekolah

Kegiatan pembelajaran dan persekolahan di SMA Negeri 3 Yogyakarta didukung dengan sarana serta prasarana, antara lain lahan seluas 21.540 m2 dan bangunan seluas 7.105 m2. Didukung pula dengan halaman/taman seluas 3.700 m2 dan lapangan olahraga seluas 10.835 m2.

[sunting] Sarana Fisik

Sarana fisik yang dimiliki:

[sunting] Sarana Penunjang Kegiatan

[sunting] Kegiatan Ekstrakurikuler

[sunting] Program wajib

Pendidikan Pramuka (khusus kelas X)

[sunting] Program Pilihan

[sunting] Beasiswa

Beasiswa yang disediakan di SMA 3 Yogyakarta antara lain :

[sunting] Prestasi

[sunting] Olimpiade Sains

  • Medali emas dalam Olimpiade Fisika Asia Pasifik dan medali perunggu Olimpiade Fisika Internasional pada tahun 2003 (Tri Wiyono Darsowiyono)
  • Medali perunggu dalam Olimpiade Kimia Internasional di Jerman pada tahun 2004 (Lisendra Marbelia)
  • Medali emas Bidang Matematika (Kristo), dua Medali perak Bidang Komputer (Anugerah Galam Persada dan Hanson Prihantoro Putro), Medali Perunggu Bidang Matematika (Ifan Hanif), Medali perunggu Bidang Kimia (Rendra Prasetya), Medali Perunggu Bidang Biologi (Sofia Imaculata), Medali Perunggu Bidang Komputer (Wiradeva Arif Kurniawan), Medali Perunggu Bidang Komputer (Dominikus Damas Putranto), dalam Olimpiade Sains Nasional 2005
  • Medali perunggu dalam Olimpiade Matematika Asia Tenggara atas nama Kristo
  • Wakil Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional 2005 di Mexico (Kristo)
  • Medali Perak dalam 2005 Olimpiade Kimia Internasional di Taiwan atas nama Rendra Prasetya
  • Honorable Mention dalam Olimpiade Fisika Asia Pasifik di Kazakhstan tahun 2006 dan medali perak dalam olimpiade Fisika Internasional pada tahun 2007 (Yoshua Michael Maranatha)
  • Wakil Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional 2007 di Vietnam (Nugroho Seto Saputro)
  • Medali Emas Bidang Matematika (Ahmad Ataka Awalur Rizqi), Medali Perak Bidang Komputer (Mirza Widihananta), dan Medali Perunggu Bidang Astronomi (Mirna Jatiningrum) dalam Olimpiade Sains Nasional 2009
  • Medali Perunggu pada Asian Physics Olympiad (APhO) 2010 di Taiwan atas nama Ahmad Ataka Awalur Rizqi
  • Medali Emas dalam International Earth Science Olympiad atau Olimpiade Kebumian ke-4 Tahun 2010 di Yogyakarta atas nama Rio Priandi Nugroho

[sunting] Prestasi Tingkat Nasional dan Internasional yang lain

  • Sandra Forestyana sebagai anggota paskibraka Tahun 2006, dan Nisma Aulia serta Lecia Mona, sebagai anggota cadangan
  • Joshua Michael Maranata, peserta terbaik dalam bidang Fisika Ujian A-Level Cambridge University
  • Fadhil Ahmad Qamar, sebagai salah satu panelis dalam World Cultural Economic Forum yang diselenggarakan oleh International Child Art Foundation (2008)
  • Koala Band (Padz Band #6) Juara I Nasional Honda Beat RBT Blast 2008
  • Fadhilah Atika, Juara I Nasional Cabang Karate dalam Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (OOSN) 2009
  • Dien Ardiansyah Putra, Juara I Asia Pasifik Cabang Renang Gaya Punggung 2009

[sunting] Alumni

PADMANABA yang pada awalnya merupakan organisasi pelajar, akhirnya juga merupakan nama Organisasi Alumni SMA Negeri 3 Yogyakarta. Alumni SMA Negeri 3 Yogyakarta tergabung dalam Keluarga Besar Padmanaba, dengan kantor pusat di Jakarta. Di beberapa kota, seperti Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan Jakarta, telah pula berdiri kompartemen Padmanaba.
Salah satu karakteristik SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah kuatnya ikatan dan peran alumni terhadap perkembangan sekolah. Peran tersebut antara lain dilembagakan dengan didirikannya Yayasan Keluarga Padmanaba (dulu Yayasan Pendidikan Padmanaba), dan program-program keluarga besar Padmanaba, seperti: (1) penerbitan majalah Kalawarta Padmanaba dan peluncuran padmanaba.or.id, (2) menyelenggarakan studium general yang bagi para siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta dengan berbagai macam tema mulai dari seni sampai dengan kewirausahaan (enterpreneurship), (3) pemberian beasiswa Padmanaba kepada siswa dan putra-putri guru dan karyawan, (4) bantuan kegiatan OSIS, dan sebagainya.
Beberapa alumni dan orang yang pernah bersekolah di SMA Negeri 3 Yogyakarta yang dikenal masyarakat luas:

[sunting] Lihat pula

[sunting]

Pendidikan - SMAN 2 (SMADA) Yogyakarta

Sekolah ini didirikan oleh Yayasan Pembinaan Kesejahteraan Persatuan Orangtua Murid dan Guru (YPK POMG) dan diberi nama SMA YPK, dengan Akte Notaris RM. Wiranto, tertanggal 14 Agustus 1963 Nomor: 17 yang bertempat pertama kali di SMP Negeri 6 Yogyakarta.
Berkat bantuan Bapak Purwaka, SH yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Inspeksi SMA, maka sebaiknya SMA YPK dijadikan dahulu sebagai filial salah satu SMA negeri yang ada. Dengan Surat Keputusan Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY tanggal 15 September 1964 No. 36/C1.UM/64, maka SMA YPK dijadikan filial SMA Negeri 1 Yogyakarta. Untuk keseragaman dengan induknya, dari SMA Negeri 1 Yogyakarta dikirim empat orang guru untuk memberikan bimbingan dan memudahkan untuk mengadakan penyesuaian dengan SMA-SMA negeri yang ada.
Meskipun tanpa gedung sendiri, penegeriannya dapat terlaksana juga dengan SK Menteri Pendidkan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 17 Juli 1965 No. 96/SA/B/III/65-66 dan sebagai Kepala Sekolah ditunjuk Bapak Drs. Soemardji.

[sunting] Kepala Sekolah

  1. RM Soedarmo (1963-1964) (SMA YPK)
  2. Antoen Suhono (1964-1965) (SMA filial SMA Negeri 1 Yogyakarta)
  3. Drs. Soemardji (1965-1975) (SMA Negeri 2 Yogyakarta)
  4. Drs. Meodjiono (1975-1977)
  5. Drs. Soeratno (1977-1981)
  6. Drs. Wahyuntana (1981-1985)
  7. Soedarjo (1985-1992)
  8. Drs. Panut S. (1992-1993)
  9. Drs. Sadali (1993-1997)
  10. Drs. Gijo (1997-2000)
  11. Drs. H. Mashadi A. R. (2000-2002)
  12. Drs. Bambang Supriyono, M.M. (2002-2005)
  13. Drs. H. Timbul Mulyono, M.Pd (2005-2008)
  14. Drs. H. Zamroni, M.PdI (2008-2010)
  15. Drs. H. Bashori Muhammad, M.M (2010-Sekarang)